Infeksi HBV masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, sementara sebagian besar kit diagnostik masih bergantung pada komponen impor yang menyebabkan biaya tinggi, pasokan terbatas, dan ketergantungan terhadap produsen luar negeri. Inovasi ini menghadirkan kit diagnostik HBsAg berbasis antibodi primer IgY anti-HBsAg dan antibodi sekunder monoklonal anti-HBsAg-HRP yang dikembangkan serta diproduksi di Indonesia. Dengan penguasaan teknologi ini, kit ini menawarkan TKDN tinggi, harga yang lebih terjangkau, pasokan yang stabil, serta performa yang telah divalidasi bersama Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). Inovasi ini mendukung kemandirian industri diagnostik nasional dan memperluas akses deteksi dini HBV.
TKDN Tinggi untuk Kemandirian Nasional
Pendampingan Teknis oleh Peneliti Ahli
Produksi Lokal, Minim Kendala Impor
Tervalidasi oleh RSHS, Berkualitas
Harga Terjangkau dengan Performa Andal
Dibandingkan kit diagnostik yang tersedia di pasaran, inovasi ini menawarkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi melalui pengembangan dan produksi mandiri dua komponen utama, yaitu antibodi IgY anti-HBsAg dan konjugat antibodi monoklonal anti-HBsAg-HRP. Hal ini mengurangi ketergantungan pada produk impor, menjamin ketersediaan produk tanpa kendala logistik internasional, serta memungkinkan harga yang lebih kompetitif. Kit juga didukung oleh pendampingan teknis langsung dari tim peneliti Indonesia yang menguasai teknologinya dan telah divalidasi bersama Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), sehingga memberikan jaminan kualitas, keandalan, dan keberlanjutan pengembangan produk.
Calon pengguna inovasi ini adalah laboratorium klinik di rumah sakit yang memiliki fasilitas ELISA, terutama rumah sakit tipe C dan tipe D, untuk mendukung skrining dan diagnosis infeksi Hepatitis B. Selain itu, kit ini juga ditujukan bagi puskesmas yang telah dilengkapi ELISA reader sehingga dapat memperluas akses pemeriksaan HBsAg di layanan kesehatan primer. Inovasi ini juga berpotensi digunakan oleh laboratorium kesehatan pemerintah maupun swasta yang melakukan pemeriksaan serologi Hepatitis B.
Inovasi ini ditujukan untuk sektor industri alat kesehatan, khususnya perusahaan yang memproduksi dan mengomersialisasikan kit diagnostik in vitro (IVD). PT Proline diproyeksikan sebagai mitra industri utama untuk hilirisasi, produksi skala industri, registrasi produk, dan distribusi kit diagnostik ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kolaborasi antara institusi riset dan industri diharapkan dapat mempercepat komersialisasi, meningkatkan TKDN, serta memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Inovasi ini berpotensi memberikan dampak ekonomi melalui peningkatan TKDN, pengurangan ketergantungan pada komponen impor, efisiensi biaya produksi, serta mendorong pertumbuhan industri alat kesehatan nasional. Dari aspek sosial, ketersediaan kit diagnostik yang lebih terjangkau dan stabil dapat memperluas akses deteksi dini Hepatitis B, mendukung diagnosis yang lebih cepat, dan berkontribusi pada upaya eliminasi Hepatitis B di Indonesia. Dari aspek lingkungan, produksi dalam negeri berpotensi mengurangi jejak karbon yang berasal dari distribusi dan pengiriman internasional, sekaligus memperkuat rantai pasok yang lebih berkelanjutan.
Implementasi inovasi ini memerlukan pemenuhan berbagai persyaratan regulasi untuk memperoleh izin edar sebagai alat diagnostik in vitro sesuai ketentuan yang berlaku. Selain itu, diperlukan studi kelayakan pasar untuk mengevaluasi kebutuhan pengguna, daya saing produk, strategi komersialisasi, serta kesiapan industri dalam memproduksi dan mendistribusikan kit secara berkelanjutan. Kolaborasi antara institusi riset, industri, dan regulator menjadi faktor penting untuk mempercepat adopsi dan pemanfaatan inovasi secara luas.
Kit Diagnostik untuk mendeteksi Infeksi Virus Hepatitis B Menggunakan Antibodi Primer IgY Anti-Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg) dan Antibodi Sekunder Monoklonal Anti-HBsAg yang Terkonjugasi Horseradish-Peroxidase (HRP) dan Proses Pembuatannya