Gambar produk Kit Diagnostik untuk mendeteksi Infeksi Virus Hepatitis B Menggunakan Antibodi Primer IgY Anti-Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg) dan Antibodi Sekunder Monoklonal Anti-HBsAg yang Terkonjugasi Horseradish-Peroxidase (HRP) dan Proses Pembuatannya
📂 Farmasi

Kit Diagnostik untuk mendeteksi Infeksi Virus Hepatitis B Menggunakan Antibodi Primer IgY Anti-Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg) dan Antibodi Sekunder Monoklonal Anti-HBsAg yang Terkonjugasi Horseradish-Peroxidase (HRP) dan Proses Pembuatannya

👤 Pemegang: Institut Teknologi Bandung
No. Permohonan
P00201800256
No. Sertifikat
IDP000090291
Status Paten
(PA) Diberi Paten
Tingkat Kesiapan (TKT / TRL)
9
Bidang Khusus
🏷️ Kesehatan & Kosmetik Alami
📝

Deskripsi Paten

Infeksi HBV masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, sementara sebagian besar kit diagnostik masih bergantung pada komponen impor yang menyebabkan biaya tinggi, pasokan terbatas, dan ketergantungan terhadap produsen luar negeri. Inovasi ini menghadirkan kit diagnostik HBsAg berbasis antibodi primer IgY anti-HBsAg dan antibodi sekunder monoklonal anti-HBsAg-HRP yang dikembangkan serta diproduksi di Indonesia. Dengan penguasaan teknologi ini, kit ini menawarkan TKDN tinggi, harga yang lebih terjangkau, pasokan yang stabil, serta performa yang telah divalidasi bersama Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). Inovasi ini mendukung kemandirian industri diagnostik nasional dan memperluas akses deteksi dini HBV.

❓

Permasalahan

Hepatitis B masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan kebutuhan pemeriksaan HBsAg yang terus meningkat untuk mendukung skrining, diagnosis, dan pemantauan penyakit. Namun, sebagian besar kit diagnostik HBsAg yang digunakan masih bergantung pada komponen maupun produk impor. Ketergantungan ini menyebabkan harga relatif tinggi, risiko gangguan pasokan akibat hambatan logistik dan bea cukai, serta keterlambatan distribusi ketika terjadi peningkatan kebutuhan. Selain itu, minimnya penguasaan teknologi produksi komponen utama diagnostik di dalam negeri membatasi kemandirian industri alat kesehatan nasional, menghambat transfer teknologi, dan mengurangi daya saing produk diagnostik Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan kapasitas produksi dan penguasaan teknologi diagnostik dalam negeri.

💡

Solusi yang Diberikan

Inovasi ini berupa kit diagnostik Hepatitis B berbasis metode sandwich ELISA yang menggunakan antibodi primer IgY anti-HBsAg sebagai antibodi penangkap dan antibodi monoklonal anti-HBsAg terkonjugasi horseradish peroxidase (HRP) sebagai antibodi pendeteksi. Kombinasi kedua antibodi tersebut memungkinkan deteksi HBsAg secara sensitif dan spesifik melalui pembentukan kompleks antigen–antibodi yang menghasilkan sinyal kolorimetri. Selain menawarkan performa diagnostik yang andal, inovasi ini dirancang dengan mengedepankan pengembangan dan produksi antibodi di dalam negeri. Pendekatan tersebut membuka peluang peningkatan nilai TKDN, mengurangi ketergantungan terhadap reagen impor, serta mendukung penguatan kapasitas manufaktur dan kemandirian teknologi diagnostik nasional.

Unique Value

1

TKDN Tinggi untuk Kemandirian Nasional

2

Pendampingan Teknis oleh Peneliti Ahli

3

Produksi Lokal, Minim Kendala Impor

4

Tervalidasi oleh RSHS, Berkualitas

5

Harga Terjangkau dengan Performa Andal

Bentuk Komersialisasi

Lisensi
Kerja sama industri

Keunggulan Inovasi

Dibandingkan kit diagnostik yang tersedia di pasaran, inovasi ini menawarkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi melalui pengembangan dan produksi mandiri dua komponen utama, yaitu antibodi IgY anti-HBsAg dan konjugat antibodi monoklonal anti-HBsAg-HRP. Hal ini mengurangi ketergantungan pada produk impor, menjamin ketersediaan produk tanpa kendala logistik internasional, serta memungkinkan harga yang lebih kompetitif. Kit juga didukung oleh pendampingan teknis langsung dari tim peneliti Indonesia yang menguasai teknologinya dan telah divalidasi bersama Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), sehingga memberikan jaminan kualitas, keandalan, dan keberlanjutan pengembangan produk.

Tahap Penelitian Awal
Prototipe Awal
Uji Terbatas
Implementasi Awal
Siap Diterapkan Lebih Luas / Diproduksi Massal
Calon Pengguna

Calon Pengguna

Calon pengguna inovasi ini adalah laboratorium klinik di rumah sakit yang memiliki fasilitas ELISA, terutama rumah sakit tipe C dan tipe D, untuk mendukung skrining dan diagnosis infeksi Hepatitis B. Selain itu, kit ini juga ditujukan bagi puskesmas yang telah dilengkapi ELISA reader sehingga dapat memperluas akses pemeriksaan HBsAg di layanan kesehatan primer. Inovasi ini juga berpotensi digunakan oleh laboratorium kesehatan pemerintah maupun swasta yang melakukan pemeriksaan serologi Hepatitis B.

Sektor/ Industri Terkait

Inovasi ini ditujukan untuk sektor industri alat kesehatan, khususnya perusahaan yang memproduksi dan mengomersialisasikan kit diagnostik in vitro (IVD). PT Proline diproyeksikan sebagai mitra industri utama untuk hilirisasi, produksi skala industri, registrasi produk, dan distribusi kit diagnostik ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kolaborasi antara institusi riset dan industri diharapkan dapat mempercepat komersialisasi, meningkatkan TKDN, serta memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional.

Industri Terkait
Potensi Inovasi

Potensi Inovasi

Inovasi ini berpotensi memberikan dampak ekonomi melalui peningkatan TKDN, pengurangan ketergantungan pada komponen impor, efisiensi biaya produksi, serta mendorong pertumbuhan industri alat kesehatan nasional. Dari aspek sosial, ketersediaan kit diagnostik yang lebih terjangkau dan stabil dapat memperluas akses deteksi dini Hepatitis B, mendukung diagnosis yang lebih cepat, dan berkontribusi pada upaya eliminasi Hepatitis B di Indonesia. Dari aspek lingkungan, produksi dalam negeri berpotensi mengurangi jejak karbon yang berasal dari distribusi dan pengiriman internasional, sekaligus memperkuat rantai pasok yang lebih berkelanjutan.

Tantangan Implementasi

Implementasi inovasi ini memerlukan pemenuhan berbagai persyaratan regulasi untuk memperoleh izin edar sebagai alat diagnostik in vitro sesuai ketentuan yang berlaku. Selain itu, diperlukan studi kelayakan pasar untuk mengevaluasi kebutuhan pengguna, daya saing produk, strategi komersialisasi, serta kesiapan industri dalam memproduksi dan mendistribusikan kit secara berkelanjutan. Kolaborasi antara institusi riset, industri, dan regulator menjadi faktor penting untuk mempercepat adopsi dan pemanfaatan inovasi secara luas.

Tantangan Implementasi

🎬 Video Demonstrasi

Kit Diagnostik untuk mendeteksi Infeksi Virus Hepatitis B Menggunakan Antibodi Primer IgY Anti-Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg) dan Antibodi Sekunder Monoklonal Anti-HBsAg yang Terkonjugasi Horseradish-Peroxidase (HRP) dan Proses Pembuatannya

Dokumen Paten Download PDF