Gambar produk Cassava Bioflavonoids (CBDs): From cassava leaf waste to pharma-grade bioflavonoid ingredient for Indonesia’s herbal medicine, nutraceutical, and cosmetic industries

Cassava Bioflavonoids (CBDs): From cassava leaf waste to pharma-grade bioflavonoid ingredient for Indonesia’s herbal medicine, nutraceutical, and cosmetic industries

👤 Pemegang: Institut Teknologi Bandung
No. Permohonan
P00202002741
No. Sertifikat
IDP000091854
Status Paten
(PA) Diberi Paten
Tingkat Kesiapan (TKT / TRL)
8
Bidang Khusus
🏷️ Kesehatan & Kosmetik Alami
📝

Deskripsi Paten

Cassava Bioflavonoids (CBDs), Bioflavonoid Grade Farmasi dari Limbah Daun Singkong, merupakan inovasi terpaten (dua paten granted) yang mengubah limbah daun singkong menjadi bahan aktif bioflavonoid berstandar farmasi (rutin ≥60%, nikotiflorin ≥15%). Sebagai platform berbasis singkong pertama di dunia, CBDs telah memperoleh pengakuan BPOM sebagai bahan aktif baru (kategori OHT dan Fitofarmaka). Teknologi ekstraksi dua tahap menghasilkan margin tinggi dari bahan baku nyaris gratis, mensubstitusi impor, dan menciptakan nilai bagi petani. Telah mencapai TRL 7–8 dengan fasilitas pilot aktif dan produk komersial terdaftar, CBDs siap dilisensikan kepada mitra industri herbal, nutrasetika, dan kosmetik nasional.

❓

Permasalahan

Indonesia adalah produsen singkong terbesar ketiga dunia (>27 juta ton/tahun), namun hanya umbinya yang bernilai ekonomi. Jutaan ton daun singkong terbuang sebagai limbah atau pakan bernilai rendah, sementara ±1 juta petani terjebak pada harga umbi Rp 800–1.500/kg tanpa sumber pendapatan tambahan. Di sisi lain, industri obat bahan alam, nutrasetika, dan kosmetik nasional yang bernilai lebih dari Rp 20 triliun mengimpor hampir seluruh bahan baku bioflavonoid (rutin) dari Tiongkok dan Brasil. Akibatnya terjadi kebocoran devisa, ketergantungan pasokan, risiko fluktuasi kurs, serta hambatan pemenuhan TKDN dan kemandirian bahan baku kesehatan. Terdapat pula kekosongan ilmiah dan regulasi: belum ada bahan aktif bioflavonoid berbasis singkong yang terstandardisasi, tervalidasi keamanannya, dan diakui regulator untuk kategori OHT maupun Fitofarmaka. CBDs menjawab ketiganya: memvalorisasi limbah pertanian, mensubstitusi impor, dan menciptakan bahan aktif baru yang siap diadopsi industri.

💡

Solusi yang Diberikan

CBDs adalah teknologi terpaten yang mengubah daun singkong menjadi bahan aktif bioflavonoid berstandar farmasi melalui proses dua tahap. Tahap pertama, ekstraksi kasar terdesentralisasi di tingkat petani: daun dirajang, direbus, dikempa, lalu didinginkan sehingga bioflavonoid mengendap tanpa kromatografi. Unit ini berharga di bawah Rp 50 juta dan dioperasikan petani terlatih. Sekitar 1 kg serbuk kasar menggantikan 100 kg daun segar, sehingga biaya logistik ditekan drastis dan petani memperoleh pendapatan baru dari limbah. Tahap kedua, pemurnian terpusat berstandar CPOB di fasilitas PT EBM Scitech: rekristalisasi dan standardisasi menghasilkan serbuk dengan kadar rutin ≥60% dan nikotiflorin ≥15%, diverifikasi HPLC terhadap baku pembanding. Hasilnya adalah bahan aktif lokal bersertifikat halal yang menggantikan rutin impor, dilindungi dua paten granted, diakui BPOM sebagai bahan aktif baru, dan siap diformulasikan menjadi produk OHT, Fitofarmaka, nutrasetika, maupun kosmetik.

Unique Value

1

Bioflavonoid Singkong Pertama di Dunia

2

Dua Pengakuan Regulasi Resmi BPOM

3

Limbah Jadi Nilai: Margin Kotor >60%

4

Substitusi Impor, Nilai Tambah Petani

5

TRL 7–8: Siap Lisensi & Produksi

Bentuk Komersialisasi

Kerja sama industri
Produksi Mandiri

Keunggulan Inovasi

Dibanding rutin impor (buckwheat, Sophora japonica, fava d'anta) dan rutin sintetis: Bahan baku nyaris gratis. Kompetitor menanam tanaman khusus; CBDs memakai limbah daun singkong yang tersedia sepanjang tahun tanpa risiko musiman. Rendemen unggul. Kadar rutin 2,4% berat kering, empat kali lipat sumber singkong global yang dilaporkan. Profil unik. Kombinasi alami rutin dan nikotiflorin (82:17) tidak dapat direplikasi rutin sintetis maupun ekstrak sumber lain. Benteng regulasi. Dua paten granted dan pengakuan BPOM sebagai bahan aktif baru; belum dimiliki kompetitor manapun. Positioning premium. Alami, halal, tertelusur, dan sirkular, sesuai tren global clean-label.

Tahap Penelitian Awal
Prototipe Awal
Uji Terbatas
Implementasi Awal
Siap Diterapkan Lebih Luas / Diproduksi Massal
Calon Pengguna

Calon Pengguna

1. Mitra industri utama (B2B, pengguna langsung bahan aktif): Industri obat tradisional, suplemen kesehatan, OHT, dan Fitofarmaka; industri kosmetik dan perawatan kulit; industri pangan fungsional dan nutrasetika. Mereka membutuhkan bahan aktif bioflavonoid terstandardisasi, halal, tertelusur, dan diakui BPOM sebagai substitusi rutin impor.2. Mitra hulu (pengguna teknologi ekstraksi): Koperasi dan kelompok tani singkong melalui jaringan Masyarakat Singkong Indonesia (MSI), sebagai penerima lisensi unit ekstraksi terdesentralisasi.3. Konsumen akhir (B2C): Masyarakat urban peduli kesehatan usia 25–50 tahun, pengguna produk imunomodulator, antioksidan, dan kosmetik berbahan alam.

Sektor/ Industri Terkait

1. Farmasi dan Obat Bahan Alam. Bahan aktif untuk Obat Bahan Alam, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan Fitofarmaka, khususnya sediaan imunomodulator, antioksidan, dan kesehatan metabolik.2. Kosmetik dan Perawatan Kulit. Aktif alami untuk formulasi anti-aging, pencerah, dan antioksidan topikal (sesuai lingkup paten kosmetik P00202002741).3. Nutrasetika dan Suplemen Kesehatan. Bahan baku kapsul, tablet, serbuk, dan sediaan cair.4. Pangan Fungsional dan Minuman Kesehatan. Fortifikasi antioksidan pada produk pangan olahan.5. Agroindustri dan Ekonomi Sirkular. Valorisasi limbah pertanian singkong, teknologi ekstraksi terdesentralisasi, dan penguatan pendapatan petani (green technology).

Industri Terkait
Potensi Inovasi

Potensi Inovasi

Ekonomi. Substitusi impor bahan baku bioflavonoid bagi industri herbal nasional bernilai >Rp 20 triliun; margin kotor >60% dari bahan baku nyaris gratis; potensi pendapatan Rp 25–40 miliar pada tahun ketiga; membuka peluang ekspor ke pasar halal ASEAN dan Timur Tengah.Sosial. Pendapatan baru bagi petani singkong dari daun yang selama ini terbuang, melalui unit ekstraksi terdesentralisasi (<Rp 50 juta) dan jaringan MSI; penciptaan lapangan kerja di pedesaan; penguatan kemandirian bahan baku kesehatan nasional.Lingkungan. Valorisasi jutaan ton limbah daun singkong; ekonomi sirkular tanpa perluasan lahan atau kompetisi dengan pangan; proses berbasis air tanpa kromatografi sehingga jejak limbah pelarut minimal.

Tantangan Implementasi

1. Kapasitas produksi. Fasilitas pilot masih ~20 kg/bulan, belum memenuhi permintaan industri skala besar. Mitigasi: pembangunan pabrik pemurnian berstandar CPOB berkapasitas >100 kg/bulan.2. Registrasi OHT. PPUPK BPOM mensyaratkan uji farmakodinamik selesai sebelum uji toksisitas subkronis, sehingga timeline berurutan. Mitigasi: pelaksanaan di laboratorium terakreditasi dan pengurusan ethical clearance lebih awal.3. Variasi bahan baku. Kadar bioflavonoid berbeda antarkultivar dan lokasi tanam. Mitigasi: seleksi kultivar unggul, pemetaan wilayah, dan pelatihan mutu bagi petani.4. Permodalan dan pasar. Kebutuhan investasi hilirisasi serta pengenalan merek di kalangan procurement industri. Mitigasi: kemitraan strategis dan lisensi.

Tantangan Implementasi

🎬 Video Demonstrasi

Cassava Bioflavonoids (CBDs): From cassava leaf waste to pharma-grade bioflavonoid ingredient for Indonesia’s herbal medicine, nutraceutical, and cosmetic industries

Dokumen Paten Download PDF