Luka kronis (contohnya ulkus diabetik) merupakan komplikasi berat yang sulit sembuh, berisiko infeksi hingga amputasi, dan memerlukan biaya perawatan tinggi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dikembangkan inovasi dari bahan lokal Indonesia, gel topikal terstandar berbasis 10% fraksi air ekstrak umbi Bidara Upas (Merremia mammosa) dengan basis CMC Na yang mampu menjaga kelembapan luka secara optimal. Sediaan herbal alami ini terbukti bermanfaat secara praklinis mempercepat penyembuhan luka hingga 96,3% dengan durasi penutupan luka hanya 5,0–6,2 hari, melindungi area luka dari infeksi bakteri (S. aureus dan S. typhi), melembabkan serta merawat elastisitas kulit, dan teruji 100% aman tanpa menimbulkan risiko iritasi.
Mempercepat Penyembuhan Luka Kronis
Melindungi Luka Kronis dari Infeksi
Melembabkan dan Merawat Regenerasi Kulit
Bahan Alami Aman untuk Kulit Sensitif
Bidara Upas Wound "Repair" Gel memiliki keunggulan kompetitif dibanding produk yang ada di pasaran. Berbeda dengan salep antibiotik konvensional yang umumnya hanya berfungsi mencegah infeksi sekunder, gel ini menawarkan aksi ganda berupa stimulasi regenerasi jaringan dan proteksi antibakteri. Kandungan ekstrak Bidara Upas berpotensi meningkatkan pembentukan kolagen, proliferasi fibroblas, dan ekspresi faktor pertumbuhan (VEGF/TGF-β), sehingga mendukung penyembuhan luka diabetik. Selain itu, aktivitas antibakterinya efektif menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi. Diformulasikan dengan basis CMC Na 1,5%, gel berfungsi sebagai moist dressing menjaga kelembapan luka dan terbukti aman tanpa menimbulkan edema/eritema.
Calon pengguna (end user) utama dari inovasi Bidara Upas Wound “Repair” Gel meliputi pasien diabetes melitus yang mengalami komplikasi luka kronis atau ulkus diabetik (khususnya derajat 1 dan 2) yang membutuhkan sediaan topikal alami untuk meregenerasi jaringan secara efektif. Selain pasien, produk ini ditujukan bagi tenaga kesehatan dan medis—seperti dokter spesialis, dokter umum, perawat spesialis perawatan luka (wound care practitioner), dan apoteker—sebagai penanggung jawab terapi pasien. Sediaan ini juga digunakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk rumah sakit, klinik perawatan luka (wound care clinic), puskesmas, dan apotek yang menyediakan layanan perawatan luka kronis secara profesional.
Aplikasi inovasi Bidara Upas Wound "Repair" Gel terkait erat dengan beberapa sektor industri. Pada industri farmasi dan obat bahan alam (OHT/Fitofarmaka), produk ini berpotensi dikembangkan melalui formulasi, produksi, dan komersialisasi sediaan gel topikal terstandar sesuai CPOTB. Di industri dermatologi dan wound care, gel digunakan sebagai moist dressing untuk mendukung regenerasi jaringan dan perawatan luka kronis. Pada sektor pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, klinik perawatan luka, puskesmas, dan apotek, produk dapat dimanfaatkan sebagai terapi pendukung luka kronis. Selain itu, distributor farmasi dan alat kesehatan berperan dalam distribusi dan pemasaran produk secara nasional.
Inovasi Bidara Upas Wound “Repair” Gel memiliki potensi dampak yang signifikan di berbagai sektor. Dari aspek ekonomi, produk ini mampu menghemat biaya perawatan medis ulkus diabetik, menjadi produk substitusi impor obat topikal sintetis yang mahal, serta meningkatkan nilai komersial tanaman obat lokal di industri herbal terstandar. Secara sosial, sediaan gel ini mempercepat pemulihan luka dengan efektivitas penyembuhan 96,3%, sehingga menurunkan risiko komplikasi amputasi dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Sementara dari aspek lingkungan, inovasi ini memanfaatkan serta melestarikan keanekaragaman hayati lokal (Merremia mammosa) secara berkelanjutan melalui formulasi berbasis bahan alam yang ramah lingkungan.
Implementasi inovasi Bidara Upas Wound “Repair” Gel menghadapi beberapa tantangan utama, mulai dari peningkatan skala produksi (scale-up) dari skala laboratorium ke manufaktur industri berstandar CPOTB/GMP untuk menjaga konsistensi mutu sediaan. Selain itu, diperlukan pelaksanaan uji klinis tahap lanjut pada manusia guna memvalidasi efektivitas dan keamanannya pada pasien luka kronis. Proses pemenuhan regulasi serta registrasi sediaan Obat Bahan Alam/OHT di BPOM juga menjadi langkah krusial. Tantangan ini dilengkapi dengan pentingnya penjaminan pasokan bahan baku umbi Bidara Upas (Merremia mammosa) secara berkelanjutan, serta pembentukan kolaborasi strategis dengan mitra industri farmasi untuk akselerasi manufaktur dan distribusi nasional.