SafeMyLife adalah aplikasi kebencanaan yang membantu mempercepat respons penyelamatan saat bencana. Permasalahan yang diselesaikan adalah keterbatasan komunikasi korban–penyelamat dan belum adanya prioritas korban berbasis data. Melalui panic button, lokasi GPS dan kondisi korban dikirim ke petugas, lalu sistem fuzzy logic dan decision tree menentukan tingkat prioritas berdasarkan usia, kesehatan, jarak ke titik aman, dan risiko wilayah. Dashboard petugas membantu mengurutkan korban dan menentukan rute penyelamatan. Solusi ini mendukung respons yang lebih cepat, terarah, dan berpotensi meningkatkan peluang keselamatan korban.
Prioritas Korban Berbasis AI
Panic Button dengan GPS Real-Time
Konten Offline untuk Kondisi Darurat
Peringatan Dini Gempa Real-Time
Dashboard & Rute untuk Tim SAR
SafeMyLife mengintegrasikan fungsi yang umumnya masih terpisah pada aplikasi kebencanaan, yaitu prioritas korban berbasis AI, panic button dengan GPS, profil kesehatan dan kelompok rentan, konten titik aman serta P3K yang dapat diakses offline, peringatan dini, dan dashboard petugas dengan dukungan rute penyelamatan. Keunggulan utamanya adalah penggunaan kombinasi fuzzy logic dan decision tree untuk menentukan prioritas korban berbasis data, sehingga tim SAR tidak hanya menerima laporan kejadian, tetapi juga memperoleh dukungan keputusan mengenai korban yang perlu ditangani lebih dahulu.
Calon pengguna SafeMyLife meliputi BNPB dan BPBD, Basarnas/tim SAR, PMI, layanan gawat darurat rumah sakit dan Dinas Kesehatan, pengelola kawasan industri, gedung, dan kampus, serta masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Selain itu, solusi ini juga berpotensi dimanfaatkan melalui kemitraan dengan sektor telekomunikasi, asuransi, smart city, dan layanan kebencanaan berbasis digital.
SafeMyLife relevan untuk sektor kebencanaan dan tanggap darurat, GovTech, kesehatan darurat, telekomunikasi, asuransi, serta smart city. Inovasi ini juga dapat diterapkan pada pengelolaan keselamatan di kawasan industri, rumah sakit, kampus, gedung publik, dan wilayah rawan bencana, khususnya untuk mendukung komunikasi darurat, prioritas korban, dan koordinasi penyelamatan.
Secara ekonomi, SafeMyLife berpotensi meningkatkan efisiensi alokasi personel, kendaraan, dan peralatan penyelamatan serta menekan kerugian akibat keterlambatan respons. Secara sosial, inovasi ini mendukung peningkatan peluang keselamatan korban, perlindungan kelompok rentan, dan literasi kebencanaan. Secara lingkungan, rute penyelamatan yang lebih terarah dapat mengurangi mobilisasi armada yang tidak perlu, sementara data risiko dapat mendukung perencanaan wilayah dan tata ruang yang lebih baik.
Tantangan utama implementasi SafeMyLife meliputi adopsi pengguna, khususnya karena masyarakat telah terbiasa menggunakan media sosial saat kondisi darurat; keterbatasan jaringan, GPS, dan daya baterai ketika bencana terjadi; integrasi data lintas lembaga antara pihak kebencanaan dan layanan terkait; serta perlindungan privasi data kesehatan dan lokasi korban. Selain itu, diperlukan pilot bersama BPBD/Basarnas dan dukungan mitra telekomunikasi agar sistem dapat diuji serta dioperasikan secara lebih luas.