Proses auskultasi konvensional dengan stetoskop biasa rentan infeksi silang, human error, dan membutuhkan dokter spesialis yang semakin langka. LUDESC hadir sebagai solusi: sistem skrining auskultasi digital bertenaga AI yang terintegrasi dengan telemedicine. Stetoskop digital LUDESC merekam suara paru dan mengirimkannya via Bluetooth ke aplikasi, lalu AI menganalisis untuk deteksi dini dan diagnosis diferensial penyakit paru, dilengkapi visualisasi Lung Map dan rekam medis terintegrasi. Pasien dan tenaga medis dapat melakukan skrining secara mandiri, cepat, mudah, dan terjangkau di mana saja, sekaligus terhubung langsung dengan dokter spesialis melalui konsultasi jarak jauh. Inovasi ini telah diuji pada 1.282 pasien.
AI-powered high accuracy diagnosis
Integrated hardware–software ecosystem
Comprehensive lung health insight
Affordable & accessible
Safe, patented & WHO-compliant
Berdasarkan audit kompetitor, LUDESC unggul karena satu-satunya yang mengintegrasikan AI diagnosis, telemedicine, rekam medis pasien, ekosistem hardware-software, dan visualisasi Lung Map sekaligus—sementara kompetitor seperti Eko, Thinklabs One, StethoMe, dan 3M Littmann hanya memenuhi sebagian fitur tersebut. Akurasi model AI LUDESC (95,05%) juga mengungguli metode state-of-the-art lain. Dari sisi harga, LUDESC jauh lebih terjangkau (~$1.000/unit) dibanding kompetitor yang tergolong mahal hingga moderat.
Calon pengguna LUDESC meliputi rumah sakit dan klinik (untuk triase dan skrining awal), dokter serta tenaga medis (perawat, bidan) sebagai operator alat dan penerima hasil diagnosis, pasien umum/masyarakat yang membutuhkan skrining mandiri terutama di area dengan akses spesialis paru terbatas, serta penyedia layanan kesehatan rumahan (home care) dan apotek yang dapat menjadi titik distribusi layanan skrining lini pertama.
Inovasi ini relevan untuk sektor kesehatan (rumah sakit, klinik, puskesmas, laboratorium), telemedicine dan digital health, manufaktur perangkat medis (medical device), riset dan pengembangan AI di bidang kesehatan, serta sektor asuransi kesehatan yang dapat memanfaatkan data skrining untuk manajemen risiko kesehatan pemegang polis.
Ekonomi: membuka potensi pendapatan tahunan hingga $197 juta dari pasar fasilitas kesehatan Indonesia, mengurangi biaya skrining dibanding alat diagnostik konvensional. Sosial: meningkatkan akses skrining dini penyakit paru di daerah kekurangan spesialis, melindungi tenaga medis dari risiko infeksi. Lingkungan: mengurangi kebutuhan kunjungan fisik berulang ke fasilitas kesehatan sehingga menurunkan jejak karbon transportasi pasien.
Ketergantungan pada konektivitas AI dan Bluetooth yang berisiko mengalami gangguan teknis; biaya awal R&D, manufaktur, dan paten yang besar; keterbatasan penetrasi pasar yang masih berfokus di Indonesia; kebutuhan pelatihan tenaga medis untuk adopsi alat dan aplikasi; serta tantangan keamanan data pasien yang menuntut perlindungan privasi sesuai regulasi kesehatan yang berlaku.