Gambar produk Sabun Cuci Tangan Antibakteri Alami Berbasis Eco-Enzyme Jeruk Siam
📂 Biologi

Sabun Cuci Tangan Antibakteri Alami Berbasis Eco-Enzyme Jeruk Siam

👤 Pemegang: Universitas Islam Bandung
No. Permohonan
S00202310101
No. Sertifikat
IDS000009950
Status Paten
(PA) Diberi Paten
Tingkat Kesiapan (TKT / TRL)
4
Bidang Khusus
🏷️ Kesehatan & Kosmetik Alami
📝

Deskripsi Paten

Sabun cuci tangan antibakteri yang beredar umumnya mengandung desinfektan kimia yang berpotensi mengiritasi kulit pada penggunaan jangka panjang, sementara kulit jeruk siam menjadi limbah organik yang belum termanfaatkan. Inovasi ini menjawab keduanya: kulit jeruk siam difermentasi menjadi eco-enzyme dan diformulasikan sebagai bahan aktif antibakteri alami dalam sabun cuci tangan. Aktivitas antibakteri mengacu pada sifat eco-enzyme yang didukung literatur ilmiah. Manfaatnya: menyediakan produk berbahan alami yang lebih ramah kulit, memanfaatkan limbah organik dengan biaya bahan baku rendah (ekonomi sirkular), serta menghasilkan sabun yang telah memenuhi SNI dan terlindungi paten.

❓

Permasalahan

Sabun cuci tangan antibakteri yang umum beredar mengandung bahan desinfektan kimia yang pada penggunaan jangka panjang berpotensi menyebabkan iritasi kulit. Di sisi lain, kulit jeruk siam merupakan limbah organik rumah tangga yang melimpah namun belum banyak dimanfaatkan menjadi produk bernilai. Inovasi ini menjawab kedua persoalan tersebut sekaligus: menyediakan bahan aktif antibakteri yang lebih alami dan ramah kulit, serta memanfaatkan kulit jeruk siam sehingga mengurangi timbulan limbah organik.

💡

Solusi yang Diberikan

Kulit jeruk siam difermentasi menjadi eco-enzyme, lalu cairan fermentasinya disaring dan diformulasikan sebagai bahan aktif dalam sabun cuci tangan. Eco-enzyme berperan sebagai bahan aktif antibakteri alami; aktivitas antibakteri ini mengacu pada sifat eco-enzyme yang didukung literatur ilmiah. Formulasi terdiri atas minyak sawit, VCO, KOH, gliserin, propilen glikol, cocoamide DEA, eco-enzyme, pewangi, dan akuades. Produk akhir telah dikarakterisasi dan memenuhi persyaratan SNI sabun cair (bobot jenis 1,039 g/mL; pH 8,61).

Unique Value

1

Antibakteri alami dari eco-enzyme

2

Pemanfaatan limbah jadi bahan aktif

3

Ramah kulit dan ramah lingkungan

4

Terlindungi paten & memenuhi SNI

5

Mencakup dua tema prioritas

Bentuk Komersialisasi

Lisensi
Kerja sama industri
Produksi Mandiri

Keunggulan Inovasi

Berbeda dari sabun antibakteri konvensional yang mengandalkan desinfektan kimia, inovasi ini memakai bahan aktif alami dari eco-enzyme sehingga ditujukan lebih ramah kulit. Dibanding paten terdahulu, inovasi ini berbasis fermentasi satu jenis limbah lokal (kulit jeruk siam), bukan campuran banyak buah maupun ekstrak. Bahan baku berbiaya rendah, mendukung ekonomi sirkular, dan formulasinya telah memenuhi SNI serta terlindungi paten.

Tahap Penelitian Awal
Prototipe Awal
Uji Terbatas
Implementasi Awal
Siap Diterapkan Lebih Luas / Diproduksi Massal
Calon Pengguna

Calon Pengguna

Rumah tangga dan konsumen umum sebagai pengguna sabun cuci tangan harian; fasilitas umum seperti sekolah, masjid, perkantoran, dan fasilitas kesehatan tingkat dasar; segmen konsumen yang mencari produk berbahan alami dan ramah lingkungan; serta komunitas dan UMKM pengolah limbah organik sebagai mitra produk turunan.

Sektor/ Industri Terkait

Industri personal care dan home care (sabun, pembersih); industri pengolahan limbah organik dan ekonomi sirkular; sektor UMKM dan ekonomi kreatif; serta agroindustri jeruk untuk pemanfaatan limbah pascapanen/pengolahan.

Industri Terkait
Potensi Inovasi

Potensi Inovasi

Ekonomi: menciptakan nilai tambah dari bahan baku berbiaya rendah serta membuka peluang produk UMKM dan lapangan kerja skala kecil. Sosial: mendorong edukasi hidup bersih dan pengelolaan limbah rumah tangga, serta pemberdayaan masyarakat melalui program berbasis pengabdian. Lingkungan: memanfaatkan limbah organik menjadi produk bernilai, mengurangi ketergantungan pada desinfektan kimia, dan mendukung prinsip ekonomi sirkular.

Tantangan Implementasi

Efikasi antibakteri pada produk akhir belum diuji sehingga masih perlu uji daya hambat. Konsistensi mutu eco-enzyme dipengaruhi variabilitas bahan baku dan proses fermentasi, serta stabilitas/masa simpan produk belum diuji. Siklus fermentasi yang relatif panjang menjadi tantangan pada peningkatan skala produksi. Diperlukan pula pengurusan izin edar (BPOM) dan perhitungan harga pokok produksi yang belum tersedia.

Tantangan Implementasi

🎬 Video Demonstrasi

Sabun Cuci Tangan Antibakteri Alami Berbasis Eco-Enzyme Jeruk Siam

Dokumen Paten Download PDF