Gambar produk Aspal Self Healing Berbasis Pasir Besi & Nano Clay - Inovasi Aspal Mandiri Anti-Retak untuk Efisiensi Infrastruktur Jalan

Aspal Self Healing Berbasis Pasir Besi & Nano Clay - Inovasi Aspal Mandiri Anti-Retak untuk Efisiensi Infrastruktur Jalan

👤 Pemegang: Universitas Muhammadiyah Surakarta
No. Permohonan
S00202310634
No. Sertifikat
IDS000012510
Status Paten
(PA) Diberi Paten
Tingkat Kesiapan (TKT / TRL)
6
Bidang Khusus
🏷️ Green Tech
📝

Deskripsi Paten

Inovasi Aspal Cerdas Self-Healing adalah teknologi mutakhir perkerasan jalan yang mengintegrasikan material maju berupa pasir besi dan nanoclay untuk memberikan kemampuan memperbaiki diri secara otonom (smart autonomous repair). Inovasi ini hadir sebagai solusi radikal untuk mengatasi masalah kerusakan dini jalan raya—seperti retak mikro dan deformasi permanen—yang selama ini dipicu oleh beban kendaraan berlebih (overloading) dan cuaca ekstrem.

❓

Permasalahan

Inovasi Aspal Cerdas Self-Healing adalah teknologi mutakhir perkerasan jalan yang mengintegrasikan material maju berupa pasir besi dan nanoclay untuk memberikan kemampuan memperbaiki diri secara otonom (smart autonomous repair). Inovasi ini hadir sebagai solusi radikal untuk mengatasi masalah kerusakan dini jalan raya—seperti retak mikro dan deformasi permanen—yang selama ini dipicu oleh beban kendaraan berlebih (overloading) dan cuaca ekstrem.

💡

Solusi yang Diberikan

• Sinergi Formulasi: Nanoclay dimodifikasi ke dalam fase aspal cair (bitumen) untuk memperkuat ikatan (bonding strength), sementara pasir besi lokal diaduk secara merata ke dalam campuran agregat kasar dan halus. • Aktivasi Otomatis: Saat muncul retakan mikro akibat beban kendaraan, kombinasi pasir besi dan nanoclay secara cerdas mengagitasi aspal di sekitarnya. Efek ini membuat aspal menjadi lebih aktif bergerak, merambat, dan mengisi celah retakan tersebut hingga menutup kembali dengan sendirinya dari dalam struktur.

Unique Value

1

Smart Technology

2

Cost-Efficiency

3

Extended Lifecycle

4

High Strength & Durability

5

Eco-Friendly & Local Sourcing

Bentuk Komersialisasi

Lisensi
Kerja sama industri

Keunggulan Inovasi

(1) Mengubah paradigma perawatan jalan dari perbaikan reaktif yang mahal menjadi penyembuhan preventif yang otomatis, (2)• Reduksi Biaya Pemeliharaan: Memangkas anggaran perawatan rutin secara signifikan karena meminimalkan kebutuhan proyek tambal-sulam konvensional, (3) • Perpanjangan Umur Infrastruktur: Mencegah keretakan kecil berkembang menjadi lubang besar, sehingga melipatgandakan usia pakai jalan raya dan memberikan efisiensi investasi jangka panjang bagi negara maupun sektor swasta.

Tahap Penelitian Awal
Prototipe Awal
Uji Terbatas
Implementasi Awal
Siap Diterapkan Lebih Luas / Diproduksi Massal
Calon Pengguna

Calon Pengguna

Pengguna Utama • Kementerian Pekerjaan Umum (Direktorat Jenderal Bina Marga). • Dinas Pekerjaan Umum Provinsi dan Kabupaten/Kota. • Badan Usaha Jalan Tol (BUJT). • Pengelola kawasan industri dan pelabuhan. • Pengelola bandara dan runway. • Perusahaan konstruksi jalan nasional dan daerah. • BUMN konstruksi (misalnya PT Hutama Karya, PT Wijaya Karya, PT PP, PT Adhi Karya). Pengguna Sekunder • Konsultan perencana dan pengawas jalan. • Produsen aspal modifikasi. • Akademisi dan lembaga penelitian transportasi. • Pengelola kawasan wisata, perkebunan, pertambangan, dan logistik.

Sektor/ Industri Terkait

Sektor Infrastruktur • Konstruksi jalan raya. • Jalan tol. • Jalan perkotaan. • Jalan kawasan industri. • Infrastruktur bandara. • Infrastruktur pelabuhan. Industri Pendukung • Industri aspal dan bahan pengikat. • Industri aditif aspal. • Industri nanomaterial. • Industri manufaktur peralatan pencampur aspal-nano. • Industri pemeliharaan jalan. Sektor Jasa • Konsultan teknik sipil. • Laboratorium pengujian material jalan. • Sertifikasi dan standardisasi produk konstruksi

Industri Terkait
Potensi Inovasi

Potensi Inovasi

A. Dampak Ekonomi • Mengurangi frekuensi pemeliharaan rutin dan berkala. • Menurunkan biaya siklus hidup perkerasan (life cycle cost). • Mengurangi kebutuhan anggaran rehabilitasi dini akibat retak mikro. B. Dampak Sosial • Mengurangi risiko kecelakaan akibat retak dan lubang pada perkerasan. • Mengurangi gangguan mobilitas masyarakat akibat pekerjaan pemeliharaan jalan yang berulang. . Dampak Lingkungan • Mengurangi konsumsi material agregat dan aspal baru akibat berkurangnya pekerjaan rehabilitasi. • Menurunkan emisi karbon dari aktivitas pemeliharaan jalan. • Mendukung konsep green pavement dan pembangunan berkelanjutan.

Tantangan Implementasi

Teknis • Validasi performa jangka panjang pada skala lapangan. • Variasi kualitas bahan baku dan kondisi lingkungan. • Kesesuaian dengan fasilitas AMP yang ada. Regulasi • Memerlukan pengujian dan sertifikasi sesuai spesifikasi nasional. • Perlu masuk ke dalam spesifikasi teknis instansi pengguna. Ekonomi • Harga awal produk mungkin lebih tinggi dibanding aspal konvensional. • Pengguna cenderung fokus pada biaya awal dibanding biaya siklus hidup. Adopsi Pasar • Resistensi terhadap teknologi baru. • Kurangnya pemahaman mengenai manfaat self-healing pada pengambil keputusan.

Tantangan Implementasi

🎬 Video Demonstrasi

Aspal Self Healing Berbasis Pasir Besi & Nano Clay - Inovasi Aspal Mandiri Anti-Retak untuk Efisiensi Infrastruktur Jalan

Dokumen Paten Download PDF