Inovasi ini menawarkan cara baru yang lebih efisien dan ramah lingkungan untuk meningkatkan kualitas air baku PDAM. PDAM selama ini bergantung pada koagulan dan flokulan kimia yang mahal dan menghasilkan lumpur berresidu kimia. Teknologi ini menggunakan bioflokulan dari bakteri lokal Bacillus velezensis strain SKC/S 5 yang ditumbuhkan pada medium murah berbasis molase dan air laut. Bioflokulan secara efektif menurunkan kekeruhan dan TSS, sekaligus mengurangi konsumsi bahan kimia, beban lumpur, dan biaya operasi, sehingga PDAM dapat meningkatkan kinerja instalasi dan citra layanan air minum yang berkelanjutan.
Bioflokulan spesifik untuk air baku PDAM
Mengurangi pemakaian koagulan kimia PDAM
Meningkatkan efisiensi instalasi PDAM
Media produksi murah, mudah diakses PDAM
Solusi hijau untuk layanan air minum
Dibandingkan koagulan dan flokulan kimia konvensional (alum, PAC, polimer sintetis), bioflokulan Bacillus velezensis SKC/S 5 bersifat biodegradable, lebih ramah lingkungan, dan memanfaatkan bakteri lokal serta medium produksi murah berbasis molase–air laut. Bioflokulan dapat bekerja pada rentang pH luas dan efektif menurunkan kekeruhan serta TSS dengan dosis relatif rendah, sekaligus mengurangi konsumsi bahan kimia dan volume lumpur berresidu kimia. Selain itu, teknologi ini dapat diintegrasikan ke unit pengolahan yang ada tanpa perubahan besar peralatan, sehingga memudahkan adopsi oleh PDAM dan membuka peluang branding layanan air minum yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Calon pengguna utama adalah PDAM dan perusahaan pengelola air minum daerah yang mengoperasikan instalasi pengolahan air baku dari sungai, danau, rawa, atau waduk dengan kekeruhan dan TSS fluktuatif. Selain itu, inovasi ini relevan untuk unit pengolahan air baku industri yang membutuhkan kualitas air stabil (misalnya industri makanan-minuman, farmasi, dan proses kimia), serta operator IPAL yang ingin mengurangi penggunaan koagulan/flokulan kimia. Pihak ketiga seperti perusahaan jasa lingkungan, konsultan water treatment, dan produsen bahan kimia pengolahan air juga dapat menjadi mitra pengguna dan distributor teknologi bioflokulan ini.
Sektor utama adalah industri penyediaan air minum (PDAM, perusahaan air minum swasta) dan pengolahan air baku. Sektor terkait meliputi industri pertambangan dan metalurgi yang memerlukan pengolahan air proses/limbah berkeruh, industri makanan-minuman dan farmasi yang membutuhkan air proses berkualitas tinggi, serta sektor pengelolaan limbah cair industri dan domestik. Inovasi ini juga relevan bagi perusahaan jasa lingkungan dan manufaktur bahan kimia pengolahan air yang ingin memperluas portofolio produk ramah lingkungan dengan bioflokulan berbasis bakteri lokal.
Secara ekonomi, teknologi bioflokulan ini berpotensi menurunkan biaya bahan kimia dan pengelolaan lumpur, serta membuka peluang bisnis lisensi, produksi, dan distribusi bioflokulan lokal. Secara sosial, inovasi mendukung penyediaan air minum yang lebih aman dan berkelanjutan bagi masyarakat, meningkatkan kepercayaan publik terhadap PDAM. Secara lingkungan, pengurangan penggunaan koagulan/flokulan kimia mengurangi jejak karbon dan residu berbahaya dalam lumpur dan badan air, sejalan dengan kebijakan green technology dan circular economy.
Tantangan utama meliputi kebutuhan validasi performa bioflokulan di berbagai kondisi air baku PDAM (musim hujan/kemarau, variasi beban organik dan sedimen), penyesuaian dosis dan kondisi operasi dengan sistem pengolahan yang sudah ada, serta penerimaan regulator terhadap penggunaan bioflokulan berbasis mikroba. Diperlukan juga edukasi teknis kepada operator PDAM, jaminan konsistensi kualitas produk bioflokulan, dan pengembangan rantai pasok bahan baku (molase, kultur starter) agar teknologi siap diimplementasikan secara luas dan berkelanjutan.