Pasta gigi umumnya memakai bahan pengikat (gelling agent) seperti karaginan yang masih diimpor sehingga harganya mahal. Inovasi ini menggantinya dengan ekstrak daun cincau hijau (Cyclea barbata), tanaman yang mudah ditemukan di Indonesia dan kaya pektin (hingga 40%) yang mampu membentuk gel seperti karaginan. Daun cincau cukup dihaluskan, dicampur air, lalu disaring, kemudian diformulasikan bersama kalsium karbonat, gliserin, xilitol, dan pipermint. Hasilnya, pasta gigi stabil setelah uji penyimpanan dengan pH, kekentalan, daya sebar, dan busa sesuai standar. Manfaatnya: biaya produksi lebih murah, proses sederhana, mengurangi ketergantungan impor, dan meningkatkan nilai tanaman lokal.
Pengganti karaginan impor
Pengikat alami dengan mekanisme gel
Ekstraksi sederhana tanpa pelarut kimia
Stabilitas fisik terbukti setelah uji
Formula ringkas dan disukai panelis
Pasta gigi ini memakai ekstrak daun cincau hijau (Cyclea barbata) sebagai bahan pengikat, menggantikan karaginan dan selulosa sintetik yang umumnya masih diimpor dan relatif mahal. Cincau hijau mengandung pektin bermetoksil rendah hingga 40% yang mampu membentuk gel alami. Bahan ini mudah didapat di Indonesia dan diekstraksi secara sederhana, sehingga biaya produksi lebih murah. Produk tetap stabil setelah 6 siklus cycling test (4–40°C): bentuk, warna, bau, dan homogenitas tidak berubah, dengan pH 8,02–8,11, viskositas 20.280–21.024 cps, daya sebar 6,1–6,3 cm, dan tinggi busa 5,7–6 cm, semuanya memenuhi syarat. Panelis juga lebih menyukainya dibanding pasta gigi berbahan pengikat lain.
anak anak
industri pasta gigi
meningkatkan nilai ekonomi bahan alam
banyaknya produk sejenis
PASTA GIGI BERBAHAN PENGIKAT EKSTRAK DAUN CINCAU HIJAU (Cyclea barbata)