Gambar produk METODE KOAGULASI KARET ALAM MENGGUNAKAN KOAGULAN ALAMI DARI FERMENTASI BUAH TOMAT(Solanum lycopersicum)

METODE KOAGULASI KARET ALAM MENGGUNAKAN KOAGULAN ALAMI DARI FERMENTASI BUAH TOMAT(Solanum lycopersicum)

👤 Pemegang: Institut Teknologi Sumatera
No. Permohonan
S00202506490
No. Sertifikat
IDS000014590
Status Paten
(PA) Diberi Paten
Tingkat Kesiapan (TKT / TRL)
4
Bidang Khusus
🏷️ Green Tech
📝

Deskripsi Paten

Industri karet masih banyak menggunakan koagulan kimia dalam proses penggumpalan lateks, sehingga diperlukan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Inovasi ini menawarkan metode koagulasi karet alam menggunakan koagulan alami dari hasil fermentasi buah tomat tanpa penambahan bioaktivator. Koagulan tersebut digunakan untuk menggumpalkan lateks dan menghasilkan karakteristik karet yang memenuhi SNI 06-1903-2017. Inovasi ini memberikan pilihan teknologi pengolahan karet berbasis bahan nabati yang lebih ramah lingkungan dan mendukung proses produksi karet yang lebih berkelanjutan.

❓

Permasalahan

Penggunaan koagulan kimia sintetis (seperti asam formiat, asam asetat, dan tawas) dalam proses penggumpalan lateks menimbulkan permasalahan serius, antara lain dampak buruk bagi lingkungan, risiko kesehatan bagi pekerja/petani, biaya pengolahan limbah yang mahal, serta kualitas karet yang rendah atau tidak memenuhi standar. Di sisi lain, alternatif koagulan alami atau pelarut organik yang ada sebelumnya masih memiliki keterbatasan, seperti waktu koagulasi yang terlalu lama, biaya tinggi, atau risiko degradasi rantai polimer karet. Inovasi ini hadir untuk menjawab kebutuhan akan koagulan penggumpal lateks yang ramah lingkungan, aman, dan efisien. Melalui perlakuan sentrifugasi pada ekstrak fermentasi buah tomat, inovasi ini mampu mempercepat waktu penggumpalan (menjadi ~3,46 menit) sekaligus menghasilkan mutu karet alam berkualitas tinggi yang memenuhi standar SNI 06-1903-2017 (SIR 20).

💡

Solusi yang Diberikan

Inovasi ini memberikan solusi koagulasi karet alam yang ramah lingkungan dan aman menggunakan supernatan hasil fermentasi alami buah tomat (Solanum lycopersicum) yang diberi perlakuan sentrifugasi. Cara kerjanya dimulai dengan mencuci, menghaluskan, menyaring, dan memfermentasi buah tomat secara alami selama 2 hari tanpa bioaktivator untuk memicu pembentukan asam organik. Ekstrak fermentasi tersebut kemudian disentrifugasi pada kecepatan 1.000 rpm selama 45 menit untuk memisahkan padatan tersuspensi sehingga dihasilkan supernatan cair jernih. Supernatan ini dicampurkan ke dalam lateks segar dengan rasio 1:2 (v/v). Kandungan ion $H^+$ yang kuat pada koagulan alami mengikat ion $OH^-$ lateks, menghasilkan waktu penggumpalan yang sangat cepat yaitu sekitar 3,46 menit. Koagulum lalu digiling dan dikeringkan pada suhu 140°C selama 2 jam, menghasilkan karet berkualitas tinggi yang memenuhi standar SNI 06-1903-2017 (SIR 20) secara efisien dan aman bagi pekerja serta lingkungan.

Unique Value

1

Koagulan Alami Ramah Lingkungan

2

Fermentasi Tanpa Bioaktivator

3

Mutu Karet Memenuhi SNI

4

Alternatif Koagulan Kimia

5

Mendukung Industri Karet Hijau

Bentuk Komersialisasi

Kerja sama industri

Keunggulan Inovasi

Keunggulan utama inovasi koagulan fermentasi buah tomat disentrifugasi ini adalah ramah lingkungan dan aman bagi pekerja, berbeda dari koagulan kimia berisiko seperti asam formiat. Dibandingkan koagulan alami lain seperti belimbing wuluh (waktu koagulasi 11–25 menit) maupun tawas yang menghasilkan mutu rendah, inovasi ini mampu mengkoagulasi lateks jauh lebih cepat, yaitu hanya ±3,46 menit. Tahap sentrifugasi juga terbukti efektif memisahkan ampas/biji sehingga menekan kadar kotoran hingga 0,048%. Selain itu, seluruh karakteristik fisik dan kimia karet yang dihasilkan terbukti memenuhi standar mutu nasional SNI 06-1903-2017 (SIR 20).

Tahap Penelitian Awal
Prototipe Awal
Uji Terbatas
Implementasi Awal
Siap Diterapkan Lebih Luas / Diproduksi Massal
Calon Pengguna

Calon Pengguna

Calon pengguna utama dari inovasi koagulan alami fermentasi buah tomat ini adalah para petani karet mandiri dan pekerja perkebunan yang membutuhkan metode penggumpalan lateks yang aman bagi kesehatan kulit serta ramah lingkungan. Selain itu, inovasi ini ditujukan bagi kelompok tani, koperasi perkebunan karet, hingga industri pengolahan karet alam atau pabrik lateks (SIR 20) yang berupaya menghasilkan karet lembaran berkualitas tinggi sesuai standar SNI 06-1903-2017. Inovasi ini juga menjadi solusi ideal bagi produsen barang jadi karet yang berkomitmen menerapkan prinsip keberlanjutan dan proses produksi hijau (eco-friendly).

Sektor/ Industri Terkait

Inovasi ini beraplikasi langsung pada sektor perkebunan dan agroindustri pengolahan karet alam, khususnya industri pengolahan lateks menjadi karet remas (crumb rubber) maupun karet lembaran yang mengacu pada standar SIR 20 (SNI 06-1903-2017). Selain itu, inovasi ini sangat relevan dengan sektor industri kimia hijau (green chemistry) dan pemrosesan biomaterial yang berfokus pada penyediaan bahan penolong industri berbasis hayati yang ramah lingkungan. Penerapannya juga mendukung sektor manufaktur barang jadi karet—seperti industri ban, otomotif, dan barang teknik—yang membutuhkan pasokan bahan baku karet alam berkelanjutan serta aman bagi lingkungan dan keselamatan kerja.

Industri Terkait
Potensi Inovasi

Potensi Inovasi

Dari segi lingkungan, inovasi ini menekan pencemaran air limbah dan tanah akibat penggunaan koagulan kimia sintetis berbahaya seperti asam formiat. Dari dimensi sosial, penggunaan bahan alami ini jauh lebih aman bagi kesehatan para petani dan pekerja perkebunan karena tidak membahayakan kulit serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat. Secara ekonomi, inovasi ini meningkatkan nilai jual lateks karena menghasilkan karet lembaran berkualitas tinggi yang terbukti memenuhi standar mutu SNI 06-1903-2017 (SIR 20) dengan proses penggumpalan cepat (±3,46 menit), sehingga mendorong efisiensi produksi dan daya saing komoditas karet di pasar industri.

Tantangan Implementasi

Implementasi paten koagulasi karet berbasis fermentasi tomat menghadapi lima tantangan. Pertama, logistik tomat memerlukan kelancaran pasokan buah pasca-panen ke lokasi perkebunan terpencil. Kedua, konsistensi fermentasi di tingkat petani harus dijaga agar mutu koagulan tetap stabil dan efektif. Ketiga, efisiensi waktu koagulasi perlu dioptimalkan agar tidak mengganggu ritme kerja petani. Keempat, hasil karet harus memenuhi standarisasi mutu industri (SIR) secara konsisten. Kelima, adaptasi petani membutuhkan pendampingan dan edukasi intensif untuk mengubah kebiasaan dari penggunaan koagulan kimia ke koagulan alami.

Tantangan Implementasi

🎬 Video Demonstrasi

🎥 Video demonstrasi belum tersedia
Download PDF