Inovasi ini menjawab masalah tingginya biaya dan ketergantungan pada pakan komersial, sekaligus belum optimalnya pemanfaatan Sargassum dan ikan bycatch di wilayah pesisir. Solusinya adalah pakan mandiri berbasis 10% tepung Sargassum dan 30% tepung ikan bycatch yang difermentasi menggunakan ragi tempe dan Bacillus, kemudian diolah menjadi pelet. Inovasi ini menghasilkan pakan lokal yang dapat diproduksi oleh pembudidaya atau UMKM, mengurangi limbah dan meningkatkan nilai ekonomi sumber daya pesisir, serta mendukung budidaya silvofishery berbasis IMTA.
Pakan lokal hemat berbasis Sargassum
Pakan berbasis ekonomi sirkular pesisir
Pakan lokal diproduksi oleh UMKM
Keunggulan inovasi ini terletak pada pemanfaatan Sargassum dan ikan bycatch sebagai bahan baku lokal yang belum dimanfaatkan secara optimal dalam pakan. Berbeda dari pakan komersial yang umumnya bergantung pada bahan baku industri, inovasi ini memungkinkan produksi pakan secara mandiri oleh pembudidaya atau UMKM. Formulasi menggunakan 10% tepung Sargassum dan 30% tepung ikan bycatch, dengan fermentasi menggunakan ragi dan Bacillus. Teknologi ini menggabungkan kemandirian pakan, pemanfaatan sumber daya pesisir, nilai tambah hasil samping perikanan, dan prinsip ekonomi sirkular dalam satu produk untuk budidaya silvofishery berbasis IMTA.
Calon pengguna inovasi ini meliputi pembudidaya ikan dan udang, khususnya pelaku budidaya silvofishery berbasis Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA). Pengguna lainnya adalah UMKM pakan, kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan), koperasi, dan pelaku usaha perikanan pesisir yang membutuhkan alternatif pakan lokal dan dapat diproduksi secara mandiri. Teknologi ini juga berpotensi digunakan oleh unit usaha pengolahan hasil perikanan untuk memanfaatkan ikan bycatch sebagai bahan baku pakan.
Sektor/industri yang terkait dengan aplikasi inovasi ini meliputi industri pakan akuakultur, perikanan budidaya, dan ekonomi kelautan/pesisir. Aplikasi utamanya adalah pada budidaya ikan dan udang, khususnya sistem silvofishery berbasis IMTA. Inovasi juga relevan bagi industri pengolahan hasil perikanan, UMKM pakan, serta usaha pemanfaatan rumput laut dan hasil samping perikanan sebagai bahan baku pakan bernilai tambah.
Inovasi ini berpotensi memberikan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan. Secara ekonomi, pemanfaatan Sargassum dan ikan bycatch sebagai bahan baku lokal dapat meningkatkan nilai tambah sumber daya pesisir, membuka peluang usaha produksi pakan bagi UMKM, serta mendukung kemandirian pakan pembudidaya. Secara sosial, inovasi dapat mendorong keterlibatan masyarakat pesisir dalam produksi dan pemanfaatan bahan baku lokal. Secara lingkungan, inovasi mendukung prinsip ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sumber daya yang kurang termanfaatkan dan mendukung budidaya silvofishery berbasis IMTA.
Tantangan implementasi inovasi ini meliputi ketersediaan dan kontinuitas bahan baku Sargassum serta ikan bycatch, karena pasokannya dapat bergantung pada kondisi pesisir dan aktivitas nelayan. Tantangan lainnya adalah menjaga konsistensi kualitas bahan baku dan proses fermentasi, standardisasi formulasi dan mutu pelet, serta memastikan teknologi dapat diterapkan secara konsisten pada skala UMKM. Selain itu, diperlukan uji kinerja pakan, validasi ekonomi, penerimaan pengguna, dan pengembangan jaringan produksi serta distribusi sebelum diterapkan secara lebih luas.
SargaFeed IMTA: Pakan Mandiri Berbasis Sargassum dan Ikan Bycatch untuk Budidaya Silvofishery