Gambar produk Hidrogel Ekstrak Kemenyan Toba sebagai Salep Luka Bakar
📂 Farmasi

Hidrogel Ekstrak Kemenyan Toba sebagai Salep Luka Bakar

👤 Pemegang: Universitas Sumatera Utara
No. Permohonan
S00202512554
No. Sertifikat
IDS000013006
Status Paten
(PA) Diberi Paten
Tingkat Kesiapan (TKT / TRL)
4
Bidang Khusus
🏷️ Kesehatan & Kosmetik Alami
📝

Deskripsi Paten

Luka bakar umum terjadi, namun obat topikal yang lazim seperti perak sulfadiazin dan perak koloid berisiko efek samping (argyria, toksisitas) dan dapat menghambat pertumbuhan sel kulit baru. Inovasi ini mengolah getah kemenyan toba (Styrax sumatranus), bahan obat tradisional Batak dari Sumatera Utara, menjadi hidrogel yang praktis dioleskan. Ekstraknya kaya flavonoid dan fenol, bersifat antioksidan kuat dan antibakteri. Pada uji hewan luka bakar derajat 2, gel 0,8% menyembuhkan luka 79,63% dalam 14 hari, setara perak koloid (78,45%). Manfaatnya: alternatif herbal yang aman dan efektif bagi pasien, pH sesuai kulit dan stabil, serta meningkatkan nilai jual kemenyan toba bagi petani lokal.

❓

Permasalahan

Luka bakar menyebabkan sekitar 180.000 kematian per tahun di dunia (WHO), sebagian besar di negara berpendapatan rendah-menengah termasuk kawasan Asia Tenggara, dan menjadi penyebab utama rawat inap lama, cacat, serta infeksi. Terapi topikal yang lazim dipakai, seperti perak sulfadiazin dan gel nanopartikel perak, dapat merusak sel fibroblas dan keratinosit sehingga memperlambat penyembuhan, serta berisiko argyria, gangguan pencernaan, interaksi obat, dan keracunan bila dipakai jangka panjang. Di sisi lain, masyarakat Batak sejak lama mengobati luka dengan menempelkan kemenyan toba yang dibakar, namun cara ini belum terstandar dari segi dosis, kebersihan, dan keamanan. Padahal Sumatera Utara menghasilkan sekitar 85% kemenyan nasional yang sebagian besar masih dijual sebagai getah mentah bernilai rendah. Dibutuhkan sediaan luka bakar yang efektif, aman, terjangkau, dan memanfaatkan sumber daya lokal.

💡

Solusi yang Diberikan

Inovasi ini mengubah getah kemenyan toba (Styrax sumatranus) menjadi hidrogel luka bakar yang terstandar. Getah dari Doloksanggul, Humbang Hasundutan, dihaluskan, diekstraksi dengan etanol 96%, lalu dipekatkan. Ekstrak dicampur ke basis gel (karbopol 940, gliserin, propilen glikol, TEA, metil paraben) pada konsentrasi 0,4-0,8%. Gel dioleskan tipis dua kali sehari pada luka bakar. Ekstrak kaya flavonoid dan fenol yang bekerja sebagai antioksidan kuat (IC50 91,9 ppm), antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, serta antiinflamasi dengan menekan IL-6. Kandungan ini juga meningkatkan TGF-β1, FGF-2, jumlah fibroblas, dan kepadatan kolagen sehingga jaringan kulit lebih cepat pulih. Bentuk hidrogel menjaga kelembapan luka, mudah dioleskan, dan memiliki pH sesuai kulit. Pada uji hewan luka bakar derajat 2, gel 0,8% menyembuhkan luka 79,63% dalam 14 hari, setara perak koloid.

Unique Value

1

Sembuhkan Luka Bakar Setara Perak Koloid

2

Antibakteri & Antioksidan dalam Satu Gel

3

Hilirisasi Kemenyan Toba, Siap Industri

Bentuk Komersialisasi

Lisensi
Kerja sama industri
Produksi Mandiri

Keunggulan Inovasi

1) Efektif: gel 0,8% menyembuhkan luka bakar 79,63% pada hari ke-14, setara perak koloid (78,45%) dan jauh di atas tanpa perawatan (56,88%), dengan variasi hasil lebih kecil (SD 4,51 vs 10,95). 2) Lebih aman: berbahan herbal tanpa logam perak, sehingga terhindar dari risiko argyria dan toksisitas sel kulit pada pemakaian jangka panjang. 3) Multifungsi: antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi dalam satu sediaan. 4) Praktis: berbentuk hidrogel dengan pH 4,7-5,3 yang sesuai kulit, mudah dioleskan, dan stabil selama 6 siklus uji. 5) Berbasis sumber daya lokal: memakai kemenyan toba khas Sumatera Utara dengan formula sederhana yang mudah diproduksi skala industri.

Tahap Penelitian Awal
Prototipe Awal
Uji Terbatas
Implementasi Awal
Siap Diterapkan Lebih Luas / Diproduksi Massal
Calon Pengguna

Calon Pengguna

1) Pasien luka bakar ringan hingga sedang (derajat 1-2) akibat air panas, api, minyak, atau benda panas, baik anak maupun dewasa. 2) Fasilitas kesehatan: rumah sakit, unit gawat darurat, puskesmas, dan klinik sebagai pilihan terapi topikal luka bakar. 3) Tenaga kesehatan: dokter, dokter spesialis kulit dan bedah plastik, serta perawat perawatan luka. 4) Masyarakat umum melalui apotek dan toko obat sebagai isi kotak P3K di rumah, sekolah, dan tempat kerja, terutama dapur, industri, dan bengkel yang rawan luka bakar. 5) Industri farmasi dan obat herbal sebagai pengguna teknologi melalui lisensi.

Sektor/ Industri Terkait

1) Industri farmasi, khususnya produk topikal dan perawatan luka. 2) Industri obat bahan alam (obat herbal terstandar dan fitofarmaka). 3) Layanan kesehatan: rumah sakit, puskesmas, klinik, dan layanan kegawatdaruratan. 4) Dermatologi dan kosmeseutikal, dengan peluang pengembangan produk perawatan kulit berbasis kemenyan. 5) Agroindustri dan kehutanan, yaitu budidaya, pengolahan, dan rantai pasok getah kemenyan toba di Sumatera Utara. 6) Distribusi dan ritel kesehatan seperti apotek, toko obat, dan penyedia perlengkapan P3K serta keselamatan kerja.

Industri Terkait
Potensi Inovasi

Potensi Inovasi

Ekonomi: meningkatkan nilai tambah getah kemenyan yang selama ini dijual mentah, mendukung hilirisasi komoditas Sumatera Utara, menambah pendapatan petani kemenyan, dan membuka peluang usaha baru di industri obat herbal dalam negeri. Sosial: menyediakan pilihan terapi luka bakar yang efektif, aman, dan terjangkau bagi masyarakat, serta melestarikan dan menstandarkan kearifan lokal pengobatan Batak dengan bukti ilmiah. Lingkungan: memakai bahan alam terbarukan sebagai pengganti logam perak, dan memberi nilai ekonomi lebih tinggi pada hutan kemenyan sehingga mendorong masyarakat untuk menjaga dan melestarikannya.

Tantangan Implementasi

1) Uji keamanan dan efektivitas lanjutan: uji toksisitas dan uji klinis pada manusia masih diperlukan. 2) Regulasi: registrasi ke BPOM sebagai obat bahan alam membutuhkan waktu dan biaya. 3) Standardisasi bahan baku: mutu dan kadar senyawa aktif getah dapat berbeda antar-panen dan lokasi. 4) Peningkatan skala produksi dari laboratorium ke industri dengan tetap menjaga stabilitas, warna, dan aroma. 5) Rantai pasok: ketersediaan getah dipengaruhi berkurangnya luas hutan kemenyan, sehingga perlu kemitraan berkelanjutan dengan petani. 6) Penerimaan pasar: perlu edukasi tenaga kesehatan dan masyarakat untuk beralih dari produk berbasis perak yang sudah dikenal.

Tantangan Implementasi

🎬 Video Demonstrasi

🎥 Video demonstrasi belum tersedia
Download PDF