Invensi ini adalah sistem kendali otomatis lepas landas dan pendaratan vertikal (VTOL) untuk pesawat tanpa awak hibrida. Sistem ini mengintegrasikan mikrokontroler dengan sensor tekanan dan kecepatan udara untuk mengatur nyala-mati empat motor listrik dan satu motor bakar tanpa intervensi pilot. Pada lepas landas, motor listrik mengangkat pesawat hingga 35-50 meter, lalu motor bakar menyala. Ketika kecepatan udara mencapai 18 m/s, motor listrik dimatikan untuk efisiensi jelajah. Proses ini berbalik secara otomatis saat pesawat mendarat, memberikan transisi yang mulus, aman, dan tanpa memerlukan mekanisme engsel mekanis yang rumit.
Transisi Otomatis Tanpa Gerakan Mekanis
Kendali Presisi Berbasis Sensor Ganda
Pemisahan Propulsi Vertikal & Horizontal
Dibandingkan paten sistem VTOL sebelumnya yang membutuhkan sistem kontrol berganda dan lengan mekanis kompleks, invensi ini jauh lebih sederhana karena meniadakan mekanisme penggerak fisik tambahan. Pesawat menjadi lebih ringan, murah diproduksi, dan 100% bebas dari risiko keausan engsel pemutar. Karena posisi baling-baling vertikal ditetapkan secara statis, sistem ini meminimalkan gaya hambat parasit (drag) selama mode jelajah, sehingga kecepatan maksimum, efisiensi aerodinamis, dan reliabilitas operasi jauh melampaui mekanisme tilt-rotor konvensional.
Calon pengguna sistem ini terbagi menjadi pihak pembeli institusional dan pengguna langsung di lapangan. Pembeli utama mencakup instansi pemerintah pusat (KLHK, BNPB, TNI, POLRI) dan BUMN Sektor Karya serta Energi yang menuntut platform udara berkeandalan tinggi. Segmen lainnya adalah perusahaan swasta skala besar di bidang pertambangan dan kehutanan (HPH), serta start-up penyedia jasa drone. Bagi pengguna langsung seperti pilot UAV, tim pemetaan GIS, dan teknisi inspeksi, inovasi otomasi transisi mode terbang ini sangat mempermudah pengoperasian tanpa perlu kendali manual yang rumit.
Invensi ini menargetkan sektor industri profesional yang kerap beroperasi di wilayah dengan medan terjal tanpa akses landasan pacu penerbangan. Sektor prioritas mencakup pertahanan dan keamanan untuk pengawasan perbatasan, serta sektor mitigasi bencana alam untuk deteksi dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sistem ini juga sangat aplikatif untuk sektor perencanaan tata ruang (survei topografi dan pemetaan proyek infrastruktur skala besar), serta manajemen operasional pada industri ekstraktif seperti operasi pertambangan dan area perkebunan sawit.
oEkonomi: Menekan tajam biaya operasional pemantauan aset dan survei geospasial bagi institusi, sekaligus mendongkrak Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada industri kedirgantaraan nasional karena sistem ini membuat wahana tidak memerlukan landasan pacu. oSosial: Meningkatkan keselamatan kerja secara signifikan karena sistem transisi otonom ini meminimalkan human error (intervensi pilot) serta dapat menggantikan personel manusia dalam misi observasi di wilayah rawan dan terisolasi.
Tantangan terbesar dalam manufaktur sistem ini adalah ketergantungan pada komponen impor untuk suku cadang krusial, khususnya avionik (mikrokontroler, sensor tekanan udara, sensor kecepatan) dan mesin bakar. Pada fase awal, terdapat keterbatasan kapasitas skala produksi lokal. Secara eksternal, implementasi produk berbasis paten ini harus berhadapan dengan ketatnya regulasi penerbangan, panjangnya proses sertifikasi kelaikan terbang UAV kelas industri, serta gempuran produk kompetitor asal luar negeri yang bersaing di pasar nasional.